Kamis, 19 November 2015

Sedikit Cerita tentang Padang


Yosh, Aku kembali lagi disini.

Aku mau cerita-cerita banyak nih mengenai pengalamanku jalan-jalan ke . . . . .

Jeng-jeng,. 
Ke kota Minang!!!! Yeeee

Selama tiga hari kami menghabiskan perjalanan ke kota ini, tanggal 9 sampai 11 Oktober 2015. Sayangnya kami cuman mengunjungi Kota Bukittinggi, bukan Padang-nya.

Tapi gapapa deh, yang penting udah foto sama Jam Gadangnya. Hihih..

Kenapa kok kami bisa sampe kesini? Yups, ini adalah hadiah kami selesai mengerjakan tugas organisasi di kampus, yaitu MASTA. Semacam Ospeknya kampus. Jadi kira-kira ini hadiah sekaligus pembubaran panitia Ospek. 

Oke, aku akan cerita tentang Bukittinggi. Dimulai dari aku tiba di Danau Singkarak.
Danau Singkarak. Sumber: Pribadi
Ituloh, Danau terbesar sekaligus kebangaan masyarakat Sumatera Barat, dengan panjang 21 km yang terletak di Kabupaten Solok, Lokasinya sekitar 70 Km dari Padang, Ibu Kotanya Sumatera Barat. Danau ini menurutku sungguh indah, tapi gak kalah indah deh sama Danau Dendam Tak Sudah punya-nya Bengkulu, heheh.

Sungguh sangat disayangkan, Minang sedang diselimuti kabut asap tebal, sehingga keindahan Danau Singkarak tertutup olehnya.

Kita menuju ke inti permasalahan, satu hal yang ditunggu, satu point yang harus ada yaitu, foto sama Jam Gadang. Yups, ini gak boleh dilewatkan begitu aja, percuma udah berkali-keli ke Sumatera Barat, kalo bukti foto sama Jam Gadangnya gak ada. 
Yuhuu, aku punya dong, mulai dari foto rame-rame, sampe selfie pun aku gak mau melewatkan kesempatan.

Jam Gadang terletak di tengah kota Bukittingi, merupakan menara tinggi khas Sumatera Barat yang menjulang dengan megahnya, beratapkan khas Minangkabau. 
Satu hal yang unik dari Jam gadang ini yaitu angka 4 romawinya ditulis dengan IIII. Kenapa bisa gitu ya? 
Seharusnya kan ditulis gini IV. Entahlah mungkin yang buat sedang lelah. Hahah.

Jam Gadang. Sumber: Pribadi
Banyak sekali tempat wisata di dekat Jam Gadang, jadi kami bisa jalan kaki menikmati semuanya, tanpa harus menggunakan kendaraan. 

Satu lagi yang membuatku terkesima dengan Bukittinggi, masyarakat disini sudah terbiasa berjalan kaki, sehingga daerah Bukittinggi nampak sekali sejuknya. Jarang ada mobil maupun motor yang asap-nya kemana-mana, lewat disekitar kota.

Lanjut ke Lobang Jepang, Lobang jepang yaitu semacam terowongan yang panjangnya 1400 meter berkelok-kelok yang dibuat oleh tentara Jepang pada periode 1942. Untuk masuk kedalam terowongan ini kita musti nyewa Tourguide, kenapa? Bahaya!. Kalo sesat bisa bahaya, terowongannya bukan sekedar satu arah, tapi banyak jalan-jalan tikus lainnya. 

Dan juga kalo sendirian menyusuri jalan ini, ngeri! Aku aja walau udah rame masih merinding. Yah, namanya juga tempat persembunyian jaman dulu. Banyak orang Indonesia yang kerja paksa disiksa, dibantai, dan di mutilasi diterowongan ini. Wajar aja mungkin kalo agak serem, hihih.

Lanjut lagi ke Kebun Binatang, namanya Taman Margasatwa Kinantan. Disini kita bisa melihat berbagai macam binatang, mulai dari burung beo, sampe harimau pun ada disini. Taman ini merupakan salah satu kebun binatang tertua yang ada di Indonesia, dan satu-satunya di Sumatera Barat yang memiliki koleksi hewan terlengkap di pulau Sumatera. Wawwww!!

Lanjut lagi ke Museum Rumah Adat Baanjuang. Museum ini berisi kumpulan benda sejarah dan budaya ranah minang. Lokasinya juga berada di area Kebun Binatang Kinantan. 
Ada satu yang unik dari museum ini, yaitu tangganya memiliki tulisan. Entahlah mungkin hanya masyarakat minang yang tau artinya.

Kami juga melewati Benteng Fort De Kock dan Jambatan Limpapeh. Butuh waktu bagi pejalan kaki untuk sampai di tempat wisata spesial selanjutnya, yaitu Great Wall of Koto. Apa sih yang spesial darinya?

Great Wall of Koto merupakan replikanya Tembok Besar yang ada di China. Sekarang, jika hanya ingin sekedar menikmati megahnya Gret Wall, gak perlu susah-susah pergi ke China. 

Ada “Janjang Koto Gadang – Great Wall nya urang awak”, begitulah masyarakat minang menyebutnya. Great Wall of Koto ini panjangnya sekitar 1 km. Wah gak kebayang kan kalo jalan kaki sepanjang itu, bisa jadi kaki udah gak kerasa kaki lagi, hahah.
Great Wall of Koto Gadang. Sumber : Pribadi
Selesai wisata yang kami kunjungi kali ini, karena udah gak kuat lagi jalan balik ke tempat semula, Jam Gadang. 
Akhirnya kami memutuskan untuk naik angkot saja, daripada gak bisa pulang, hahah. Dan sekali lagi, Aku merasakan gimana naik angkotnya urang minang, heheh.

Beristirahat sebentar di bawah megahnya Jam Gadang, kamipun berbelanja oleh-oleh di pasar dekat dengan Jam Gadang itu sendiri. Pasar Tradisional dikenal murah di Bukittinggi, dan kalo kita mau beli makanan khas Minang, kita bisa cicip-cicip di tokonya, gituu, heheh.

Lanjut keliling cuci mata liat-liat baju, liat-liat aja sih, soalnya si-uang sudah menipis di kantong, hahah. Busyett, terkesima lagi, baju-bajunya kawaaann, bagus-bagus bangett. 
Sayang gak bawak duit banyak. Baju yang harganya lumayan, modelnya juga belum ada di Bengkulu. Bikin ngiler aja di Bukittinggi.

Seharian menghabiskan waktu full jalan-jalan ke berbagai tempat wisata, membuatku jatuh cinta dengan Bukittinggi. Ingin sekali rasanya bersekolah disini, nyaman, sejuk, indah. Hmm, Salah satu do’aku sudah didengar oleh Allah, “Sumatera Barat”. 
Akhirnya aku bisa menginjakkan kaki disini. Suatu saat aku akan kesini lagi. Aamiiin,.

Target Perjalanan selanjutnya, “Yogyakarta”.-

4 komentar:

  1. wah makan siangnya ini harusnya di tepi aliran sungai Ngarai Sianok, yg di saung saung tepian sawah dan sungai, rancak bana

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayangnya gak terlalu ekspor kesana kak. next trip deh, heheh.

      Hapus
  2. Wah ternyata blogpost pertama di sini tentang Sumbar yaa. Senang sekali mendengar ada yang menikmati indahnya Sumbar. Bukittinggi memang menjadi primadona jika jalan-jalan ke Sumbar. Ada banyak tempat yang dapat dikunjungi di sana. Apalagi di tahun 2015. Bukittinggi juga bisa dikatakan "rumah" nasi kapau (walau sebetulnya tepatnya di kabupaten Agam sih). Sekarang Sumbar semakin berbenah di pariwisatanya.

    Salam dari Sumatera Barat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam juga. aku kembali rindu sama Sumbar nih. dua tahun gak kesana lagi, heuhuuu

      Hapus