Rabu, 04 Mei 2016

Teater Kepalsuan


TEATER KEPALSUAN
Created by; Alfha Sari Asnawi


Bertahan dalam kebohongan. Rasa peduli itu hanyalah topeng. Entah siapa diantaranya yang memainkan peran. Semua orang memiliki watak dalam perbedaan. Dan semuanya memiliki satu kesempatan untuk bermain. Memainkan kehidupan yang penuh kepalsuan. Cinta adalah api, api yang dibawa oleh semua orang tanpa diketahui tiap-tiapnya. Yang siap membakar hangus jiwa-jiwa tanpa taktik dalam berperan.
Hidup penuh dengan senyum orang-orang yang menghujat di belakang. Semuanya begitu. Manis rupanya tak sesuai dengan jiwanya. Seakan sangat rindang untuk berteduh, namun penuh kobaran dalam akar serta lapis-lapis batang. Menjatuhkan daun seakan tertimpa besi berat berkarat nan panas. Bukan malah bisa tertidur lelap dibawahnya. Hanya menimbulkan luka yang tak nampak tapi sakit luar biasa.
Berdekatan, berperan saling memerlukan kebersamaan. Memeluk erat satu dengan yang lain. Seperti saling memeluk bunga mawar. Semakin erat kau memeluk, bersiaplah untuk tertusuk lebih dalam dan menderita. Satu adegan ke adegan lain. Cantik rupanya menyembunyikan pisau tajam di belakang. Pisau yang entah untuk apa ia gunakan. Melukai lawan berperan atau melukai tangan sendiri.
Tentu tidak mungkin untuk menyakiti diri sendiri. Lebih baik lawan yang tertusuk pisau tajam daripada diri ini menderita. Tapi apa bisa dikata jika sang sutradara menghendaki dirinya sendiri untuk terluka. Pemeran seharusnya tahu apa adegan selanjutnya.
Semilir angin rupanya juga mendatangkan bau tak sedap. Setiap hembusan mengeluarkan hawa panas. Cinta adalah angin. Yang kapan waktu kamu bisa mati karena ketiadaan angin. Merasa tiap-tiap orang bermain sendirian dalam perannya. Semuanya memiliki jarak. Dekat namun sangatlah jauh disana. Jarak itu adalah KEPALSUAN.
Satu tak mengenali yang lainnya. Jiwanya pun tak bisa dikenali. Terombang-ambing mengikuti arah arus. Lalu terhempas oleh kerasnya batu karang di samudera nan luas. Air yang selembut itupun bukan lagi seperti air. Mengalir, mengikuti jejak sang pemeran utama. Tahukah? Dialah yang mengatur pemeran lain sesuai kehendaknya.
Dunia masih berjalan seperti biasa. Mungkin hanya duniaku yang gila. Salah menempatkan jiwa, beginilah akibatnya. Bermain sesuai kehendak pemeran utama. Tanpa bisa satupun gerakan yang membuat bebas tanpa aturan. Terhempas, terluka, terombang-ambing tak tentu arah karena apa? KEPALSUAN.

0 komentar:

Posting Komentar