Kamis, 05 April 2018

Rasanya Solo Travelling itu. .


Yang namanya liburan itu pasti menyenangkan. Apalagi jika diberikan kesempatan mengunjungi suatu tempat atau daerah yang belum pernah di kunjungi sebelumnya.

Apalagi juga tempatnya punya keindahan alam yang luar biasa.

Apalagi tempatnya punya akses yang mudah dan aman tentunya.

Apalagi ditambah liburan bersama keluarga maupun teman dekat.

Wahh, mengasyikkan sekali tentunya.

Pengalaman liburan dapat membuat kita sejenak melupakan kesibukan dan aktifitas kita biasanya. Bersenang ria bersama keluarga yang disayang maupun orang tersayang.

Melakukan sebuah perjalanan bukan hanya membutuhkan dana, tetapi juga harus jiwa dan raga. Apalagi cinta.

Banyak hal yang harus kita persiapkan, mulai dari persiapan pribadi bahkan sampai hal-hal sepele lainnya.

Di akhir tahun 2017 lalu, Saya punya pengalaman melakukan perjalanan sendirian. Iya, sendirian. Dan itu untuk pertama kalinya.

Bayangin, seberapa kuat saya bertahan menghadapi kesendirian. Mulai dari kehidupan sampai di perjalanan. Saya bisa menyandang title “Udah biasa sendirigirl.

Kalo dibilang travelling untuk liburan, enggak juga sih. Tapi untuk pertama kalinya aku berangkat “solo-an” ke Bandung.

Love and taste at the first time.
Sumber: Pixabay

Semuanya serba pertama.

Meskipun ada juga sih yang udah dua kali. Tapi yah, anggap aja baru pertama kali.

Jadi ceritanya, akhir bulan November 2017 lalu ada teman Saya mengirimkan pamflet acara beserta keterangannya lewat Whatsapp.

Kegiatan tersebut adalah kegiatan semacam pelatihan Anti Korupsi yang di gagas langsung oleh KPK RI. Dan yang bikin Saya tertarik adalah pelatihan tersebut bukan hanya sekedar pelatihan. Tetapi pelatihan berbasis media dan teknologi.

Mungkin itu sih hal yang membuat Saya tertarik. Karena kebetulan juga saya sedang belajar dalam hal media dan teknologi. Mungkin tidak salah jika Saya mencoba mendaftar.

Saya iseng-iseng saja mengisi formulir pendaftaran dan mengikuti syarat wajibnya yaitu membuat sebuah vlog atau video mengenai alasan kenapa mengikuti kegiatan tersebut.

Sembari belajar juga bikin video yang nantinya akan di upload di Youtube dengan hashtag tertentu, saya lumayan “niat” bikin video tersebut.

Yang biasanya gak pernah dandan kalo bikin video, saya mencoba untuk ber make-up untuk sebuah video.

Dan baru sekarang saya menyadari betapa alaynya saya pake make-up tahun lalu.

Dengan PD saya mulai mengedit video tersebut dan menguploadnya di Youtube. Setiap hari selalu saya buka kata kunci acara tersebut, untuk melihat dan memantau saingan-saingan pendaftar yang lain.

Jangan heran yak, kalau ikutan lomba atau pendaftaran yang berbau seleksi, pasti saya kepo dengan saingan, hahah.

Satu orang, dua orang, hingga akhirnya detik-detik penutupan pendaftaran pun semakin banyak yang upload. Bahkan sudah ditutup pun masih tidak berhenti orang-orang yang mengupload video.

Dan di detik-detik penutupan, kualitas dan gaya videonya semakin menarik. Membuat saya bertanya dalam hati dan benak “Ini di anggap sepele apa memang pengerjaannya yang membutuhkan waktu lama?”

Acara sebesar itu kok pendaftarannya masih dianggap sepele. Meskipun, yah I know, saya anggap iseng-iseng aja ngisi pendaftaran. Tapi dalam hati kecil saya, saya juga mengharapkan lulus dong ya.

Lumayan bisa pergi ke Bandung untuk pertama kalinya, ye kan.

Syarat dan ketentuan sebelumnya sudah dijelaskan bahwa penerimaan dalam kegiatan ini sebanyak 50 orang saja. Dan sebanyak 20 orang yang beruntung-entah darimana di pilihnya-akan mendapatkan tiket pulang-pergi gratis dari panitia. Uwahhhhh

Seperti yang lainnya, saya berharap sebagai 20 orang yang beruntung itu- tentunya harus lulus seleksi dulu. Alhamdulillah meskipun keisengan yang diharapkan, akhirnya saya lulus seleksi. Tapi yang disayangkan, saya buka termasuk yang ke 20 peserta tersebut.

Dari calon peserta menjadi peserta. Saya sudah bangga sekali dengan semua itu. setidaknya saya ke 50 dari ratusan yang mendaftar se-Indonesia.

Sesudah di email dan dinyatakan saya lulus dan bersiap untuk bernagkat. Saya memberitahu teman saya yang sebelumnya saya ajak ikut, tetapi beliau sedang ada kegiatan lain di kampus. Teman saya pun merasa kaget, dan mendukung saya untuk bernagkat.

Tetapi sesudahnya saya bingung “ini berangkatnya pake apaan?”.
Bandung gak se dekat dari kost ke Benteng Marlborough-yang kalo mau kesana naik angkot aja bisa. Bandung jauh! Modal darimane?

Keluh kesah tersebut saya ceritakan dengan teman saya tadi. Dia tetap selalu menyemangati dan mau membantu saya mencari jalan keluar. Dia menyarankan saya mencari dana ke kampus. Karena minta kepada orang tua untuk kegiatan yang “belum penting-penting amat” saya enggan dan malu.

Setelah proses sana sini yang membuat saya cukup stress dan memutar otak terlalu kuat, akhirnya dana pun saya dapatkan. Tidak banyak namun cukup untuk ongkos pulang pergi.

Kegiatan yang akan diadakan ini berjalan satu minggu lebih. Jadi saya harus memastikan kebutuhan saya disana jangan sampai tidak ada.

Yah orang tua sebelumnya tidak mengizinkan saya berangkat. Banyak ditanya juga untuk apa, ada menyangkut perkuliahan gak, nantinya dari sana mau ngapain, bla bla bla. Seketika impian Saya yang gak di dukung orang tua itu, rasanya saya orang yang paling down di dunia.

Bermodalkan niat yang kuat. Motivasi saya ikut kegiatan tersebut sebenarnya bukan hanya kegiatannya. Tetapi pergi ke Bandung untuk pertama kalinya. Salah satu kota yang paling Saya impikan dan pernah Saya tulis di list impian.

Ada kesempatan kesana, kok malah di sia-siain. Seketika itu saya merasa jadi anak paling membangkang sedunia. Terkesan memaksa orang tua.

Namun saya tidak merasa terlalu bersalah. Karena yang saya pikirkan adalah saya tidak terlalu merepotkan orang tua saya dan juga tidak membebani orang tua. Karena setidaknya modal saya untuk kesana sudah ada di tangan. Saya hanya butuh restu dan tinggal berangkat saja.

Mungkin pemikiran saya tidak sama dengan pemikiran orang tua. Merasa bersalah sudah jelas karena membuat mereka tidak merestui perjalanan saya. Namun di sisi lain, ada mimpi yang harus saya jadikan nyata. Yang bukan hanya mimpi saja.

Akhirnya dengan berbagai macam rintangan, saya berangkat juga. Sendirian!

Sebelumnya saya sudah mencari informasi terlebih dahulu apa yang harus saya persiapkan dari berangkat sampai pulangnya nanti. Mulai dari kehidupan di Bandung, dan cara pergi kesana memakai apa?

Untuk berangkat, saya memutuskan naik pesawat saja. Karena tidak memungkinkan untuk naik bis yang memakan waktu lama di perjalanan. Setelah mencocokkan biaya, waktu, dan juga tenaga, saya memilih naik pesawat dari Bengkulu-Jakarta.

Karena kondisi yang tak memungkinkan naik pesawat Bengkulu-Bandung yang harganya muahallll poll. Kemudian setelah itu baru naik kereta api Jakarta-Bandung.

Setelah saya itung-itung dengan rinci perjalanan saya sendirian ini, dana yang saya dapatkan dari kampus pas sekali hanya untuk pulang-pergi menggunakan pesawat dan kereta api.

Kenapa pilih pesawat? 
Untuk pertama kalinya melakukan perjalanan sendiri. Dan untuk pertama kalinya juga naik pesawat. Tentunya banyak sekali hal yang saya pikirkan.

Perjalanan sendiri, saya memikirkan ke-efisienan dan keamanan diri saya sendiri. Naik pesawat ke Jakarta saya pikir lebih efektif, karena waktu yang tidak lama. Dan saya juga menyempatkan diri berkunjung satu malam di rumah keluarga dari mama di Jakarta.

Sesampai di Bandara Jakarta, saya sudah di jemput oleh keluarga saya, karena sebelumnya sudah berkomunikasi dan mereka juga tidak keberatan.

Alasan lain yaitu ingin mencoba naik pesawat. Yah, sebelumnya saya belum pernah naik pesawat, belum pernah liat pesawat parkir di lapangan besar, yang biasanya kalo ada pesawat lewat tiap jemur baju di atas kost cuman bisa bergumam “kapan yah bisa naik?”.

Itulah hal yang ingin Saya coba. Prinsip yang selalu saya junjung tinggi-tinggi, mimpi harus saya jadikan nyata, bukan hanya mimpi saja. Dan di setiap adanya kesempatan, tidak boleh terlewatkan begitu saja.

Kenapa pilih kereta?

Beberapa tahun lalu sebenarnya pernah ke Jakarta, tapi naik mobil dari Bengkulu. Dan belum pernah ngerasain naik pesawat sama sekali. Tapi untuk naik kereta, ini yang kedua kalinya, karena sudah pernah pas ada kegiatan MTQ Nasional di UI.

Tak menghilangkan kesempatan juga, mumpung lagi di Jakarta, pas waktunya rombongan kampus pulang ke Bengkulu, saya sengaja gak ikut pulang. Masih mau jalan-jalan dulu sendirian di Jakarta.

Yah meskipun gak sendirian-sendirian betul. Ada teman saya dari SMP yang siap mengajak saya jalan-jalan. Kebetulan dia memang berkuliah di Jakarta.

Sesudah jalan-jalan dengan teman saya, saya juga menyempatkan ke rumah keluarga. Dan kebetulan keluarga saya mau berangkat ke Banjar. Kota lahir Mama saya. Pulang kampung. Dan saya mau ikut. Dan perjalannya naik kereta api.

Disitulah motivasi saya. Ingin mencoba lagi naik kereta api. Karena dulu gak terlalu berasa, karena perjalanan malam. Tapi kali ini, untuk yang kedua kalinya naik kereta api sendirian dan saya sengaja memilih siang hari. Karena memikirkan keamanan juga sih.

Cerita paling seru yang kalo saya ceritakan sama keluarga saya, itu membuat tertawa terbahak-bahak. Sendirian udah kayak orang linglung. Celingak-celinguk. Mana kecil, tapi berani banget dan nekat. Hahah

Cerita sambungannya di next post yah!

Teman-teman pernah melakukan perjalanan sendirian gak? Coba ceritain keseruannya di komentar!

31 komentar:

Posting Komentar

Jangan lupa komentar ya!