Kamis, 07 Juni 2018

Penulis Viral dengan Cara Instan


Setiap minggu pastinya Saya selalu update tulisan. Ikut komunitas Blogger ternyata punya dampak yang cukup baik untuk Saya. Target pembaca blog www.catatanpemimpi.com Saya jadi lebih meningkat dari sebelumnya.

Selain itu, bergabung dalam komunitas menjadikan semangat kita semakin terpacu. Oleh karena punya banyak teman yang satu visi, semangat menulis selalu menggebu-gebu. Modal semangat dan niat mau nulis saja sudah cukup.

Banyak sekali teman-teman di sekitar Saya yang mengatakan bahwa "Menulis itu mudah".

Memang benar. Menulis itu mudah. Namun tak semudah yang cuma ada di bayangan saja.

Menulis harus punya mood yang bagus. Gak bisa asal-asalan.

Menulis harus di-niat-kan. Gak bisa cekrek-cekrek langsung jadi.

Kita perlu memperhatikan rangkaian kata yang kita susun, dan berusaha untuk se-bermanfaat mungkin serta tidak membuat orang lain resah dengan apa yang sudah kita tulis.

Artinya tulisan harus bermanfaat, minimal menghibur pembaca. Bukan malah membuat hal-hal berbau menyinggung atau mengadu domba lainnya.

Akhir-akhir ini banyak sekali dijumpai "penulis viral" dengan berbagai macam tulisannya.

Berbagai macam hal ditulis tanpa memperhatikan kenyamanan sekitar demi membuat diri sendiri dikenal banyak orang.

Penyebaran berita hoax memang sudah banyak. Viralnya suatu berita yang belum diketahui kebenarannya. Anehnya yang lebih dominan menjadi viral dan menghebohkan masyarakat selalu berita-berita negatif.

Banyak sekali Saya mendengar kasus-kasus yang tidak baik menjadi viral dengan menuliskan ujaran kebencian di berbagai media sosial. Ujaran kebencian dengan cara memfitnah ataupun mengadu domba orang lain, sehingga membuat masyarakat sekitar menjadi resah.

Apalagi yang dituliskan dan disebarkan di media sosial adalah hal-hal yang berbau SARA. Bagi penulis maupun masyarakat biasa, seharusnya sudah mengetahui bahwa tidak ada media manapun yang menerima tulisan yang mengandung unsur SARA.

Alih-alih ingin dikenal masyarakat, cara yang paling instan untuk terkenal yaitu dengan menulis SARA tersebut di media sosial pribadi layaknya Facebook. Meskipun pribadi, media sosial tetaplah media sosial, media yang banyak orang akan melihat dan mnegetahui.

Terbit di Koran Rakyat Empat Lawang Edisi 21 Mei 2018.
Apalagi di negara kita hal-hal yang berbau SARA memang sedang sensitif. Sangat disayangkan bagi penulis-penulis konten yang bermanfaat malah tersingkirkan dengan hal-hal viral tersebut. Padahal tujuan penulis sebenarnya adalah menyebarkan informasi dan sesuatu yang bermanfaat yang bisa menambah wawasan pembacanya.

Tetapi jika kita sebagai masyarakat ikut menerima konten-konten negatif, penulis viral itu akan semakin membuat dirinya terkenal dengan cara instan, yang tidak lagi mempedulikan apa yang diucapkan, asal masyarakat menjadi resah. Sehingga yang berhasil dituliskan adalah kata-kata kotor yang menyinggung SARA.

Sayang sekali kita sebagai konsumen lebih tertarik dengan berita-berita negatif dan membagikannya ke media sosial. Hal itulah yang membuat pasar media sosial lebih sering menampilkan konten negatif. Karena kita sendiri yang membuat pasar tersebut.

Sepatutnya kita abaikan saja konten negatif, terlebih jika kebenaran konten tersebut belum pasti diketahui. Mari sama-sama kita mulai mengonsumsi tulisan atau bacaan yang baik.

Jangan pernah sekalipun kita berpikir "Bad news is good news".

Berita buruk tidak perlu di sebar luaskan, karena dapat membuat suatu daerah tersebut menjadi ikutan buruk. Lebih baik mencari informasi yang baik dan mendukung penulis konten positif untuk tetap memberikan hal yang bermanfaat bagi kita sendiri sebagai masyarakat.

2 komentar:

  1. Sayangnya, memang (sepertinya) masih banyak orang-orang yang lebih tertarik dengan berita 'panas yang menggelitik'.

    Nah kalau gitu bagian kita deh kak untuk menyemarakkan tulisan yang berfaedah heheheh.

    BalasHapus
  2. Kalo viralnya semacam itu, biasanya cepet hilang dari internet, baik tulisannya dihapus maupun orangnya dibawa ke kantor polisi.

    Sukurlah sekarang semakin banyak yang paham (atau takut aturan) kalau share yang gak baik bakal berakhir buruk.

    BalasHapus