Selasa, 05 Desember 2017

Millenials, Tau Korupsi Gak?



Kalo bicara masalah korupsi, pasti di benak kita semua sudah membayangkan beratnya masalah tersebut. Ada juga mungkin yang berfikir mengenai rumitnya pemecahan masalah yang sedang diahadapi. Seperti yang kita ketahui bahwa di Negara kita kasus-kasus seperti korupsi sudah banyak sekali tersebar di media sosial. Masyarakat pun sudah sangat awam mendengar apapun mengenai korupsi.
Anti-Corruption Youth Camp atau disingkat ACYC 2017 yang diinisiasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK RI) merupakan kegiatan yang sangat seru, kreatif, dan berjiwa nasionalis tentunya di kemas dalam media digital yang pas buat remaja ataupun anak muda.
Kegiatan ini berjalan selama kurang lebih 7 hari di Kota Bandung, Jawa Barat. Pesertanya terdiri dari berbagai macam daerah di seluruh Indonesia. Dan Alhamdulillah aku merupakan salah satu pemuda yang mewakili daerah Bengkulu dalam kegiatan ini.


Kenapa Bengkulu?
Nah kebetulan aku sedang kuliah di Bengkulu, dan disini di setiap perkenalan aku selalu menyebutkan Bengkulu untuk perwakilan daerah. Tapi tetap tidak melupakan asal daerah dong ya, asalku dari salah satu kabupaten yangada di Sumatera Selatan, Empat Lawang.
Saat bertanya kepada peserta dari daerah lain, “tau Bengkulu gak?” jawabannya pasti senyum-senyum sambil geleng-geleng. Udah ketebak pasti gak tau sama Bengkulu. yaudah aku jelasin aja sedikit tentang dimana si Bengkulu itu. Hahahah
Aku kira, aku adalah salah satu dari Bengkulu, ternyata aku punya temen satu yang juga keturunan Bengkulu. kita sempat sharing sedikit mengenai Bengkulu, dan yang aku ketahui dari beliau (ceileehhh, beliau), beliau juga bisa Bahasa Rejang, salah satu bahasa daerah Suku Rejang. Aku tahu pas tadi di seminar, beliau sempat coret-coret Aksara Kaganga di notebooknya.


Ngobrolin Korupsi Sama Millenials
Di hari pertama mengikuti ACYC 2017, pastinya sudah banyak kegiatan yang sudah terlewati, seperti pembukaan ACYC 2017, talkshow “Ngobrolin Korupsi Sama Millenials”, serta Youth Sharing Night.
Talkshow yang belum pernah aku ikuti sebelumnya yang sangat menarik dan berbobot sekali. Dengan pilihan tema yang anak muda banget yang tentunya pembicara dari pemerintahan seperti: Bapak Mohammad Tsani Annafari (Penasihat KPK), Bapak Dadang Trisasongko (Sekjen Transparency International Indonesia), Perwakilah Pemerintah Kota Bandung, Kak Anita Wahid (Jaringan Gusdurian), Kak Melanie Subono (Seniman & Aktivis yang kekinian banget), Kak Iman Sjafei (Social Marketing Strategist), Sujarnako (Direktur Dikyanmas KPK), serta penulis termahsyur kita sekaligus sang pemilik Negara yang namanya The Panas Dalam, Ayah Pidi Baiq.
Talkshow yang dikemas dengan bahasa anak muda, yang bisa diterima dan dipahami oleh peserta tentunya, dan juga sempat menimbulkan berbagai macam pertanyaan seputar media digital dan Korupsi.

Media Digital
Zaman sekarang siapa yang tidak tahu mengenai media digital. Teknologi yang sudah sangat menjamur berhasil menyentuh segala jajaran masyarakat. Hampir semua masyarakat lambat laun sudah mengerti mengenai media digital. Banyak sekali contoh dari teknologi digital seperti televisi, radio, serta sosial media.
Media digital sekarang sudah sangat berpengaruh terhadap masyarakat serta memberikan dampak yang luar biasa. Akses yang mudah dengan teknolgi canggih yang bisa di jangkau oleh semua orang semakin membuat orang-orang mudah mengenal dunia dan informasi. Segala sesuatu pasti bisa diketahui dari media digital.
Namun jangan lupa bahwa media digital dengan kebebasan dan kemudahan akses, pastinya kita sebagai masyarakat yang sudah melek dengan teknologi untuk tidak menyalah gunakan hal tersebut.
Generasi millenials yang melek media harus pandai untuk memanfaatkan teknologi yang sudah bertebaran dimana-mana. Aku sempat sedikit mengutip kata-kata dari salah satu pembicara talkshow tadi, bahwa “Secanggih apapun media digital yang kita punya, kalau kita gak bisa mempergunakannya dengan bijak, itu namanya percuma!.
Akan terasa sia-sia apa yang sudah diciptakan oleh manusia dalam bentuk teknologi untuk mempermudah manusia itu sendiri, apabila manusia tersebut tidak bisa menggunakannya secara totalitas untuk kepentingan yang bersifat positif.
Untuk itu, peserta ACYC 2017 yang merupakan generasi millenials tentunya diberikan sebuah misi untuk menghasilkan karya dengan memanfaatkan banyak teknologi yang sudah diciptakan. Dan tentunya misi tersebut harus memiliki pengaruh atau dampak terhadap masyarakat luas.

Bandung, 4 Desember 2017. 11:36 pm

0 komentar:

Posting Komentar