Jumat, 08 Desember 2017

Totalitas Seorang Guru #TelatBerat - Alfha Sari for Anti-Corruption Youth Camp 2017


 Totalitas Seorang Guru
By: Alfha Sari Asnawi

Pendidikan merupakan salah satu hal yang paling penting dalam proses kehidupan kita. Dengan pendidikan, kita bisa mendapatkan informasi baik itu dari segi ilmu akademik maupun non akademik.
Sejak lahir manusia sudah bisa mendapatkan pendidikan. Pembelajaran di rumah bersama orang tua, lingkungan, maupun lokasi formal seperti sekolah. Dengan adanya pendidikan, pemikiran kita bisa lebih maju dan bertambah. Hal-hal yang belum kita ketahui, akan kita dapatkan lewat pendidikan.
Salah satu cara untuk mendapatkan pengetahuan tentunya dengan bersekolah. Sekolah merupakan salah satu wadah bagi kita untuk bisa mengeksplorasi diri untuk mengembangkan ataupun mendapatkan pengetahuan. Tentunya ada sosok pengajar atau guru yang memberikan atau membagikan informasi pengetahuan tersebut. Seorang guru awalnya juga mencari pengetahuan sebelum Ia mengajarkan orang lain atau siswanya.
Menjadi seorang pengajar atau seorang guru pastinya harus memiliki totalitas serta profesionalitas yang tinggi. Tidak hanya mengajar dan sekedar memberikan pengetahuan saja, tetapi juga mendidik moral siswanya untuk menjadi lebih baik.
Namun bagaimana jika ada permasalahan yang mempertanyakan totalitas seorang guru dalam mengajar? Seperti halnya seorang guru yang mengajar di kelas dan mengalami fenomena Korupsi Waktu.
Korupsi bukan hanya dilakukan oleh pejabat yang memiliki kedudukan kekuasaan saja. Hal-hal kecil pun disekitar kita juga bisa berbau korupsi. Seperti hal nya di sekolah. Saat seorang guru yang sedang mengajar mengalami fenomena korupsi waktu.
Ketika seorang guru mengajar di dalam kelas, ada dua permasalahan yang saya soroti dalam belajar mengajar. Pertama yaitu seorang guru yang mengajar sesuai dengan jam pelajarannya namun mengambil jam pelajaran guru lain. Dan yang kedua adalah mengurangi jam pelajaran padahal  masih berlangsungnya belajar mengajar.
Satu permasalahan yang terjadi saat saya masih SMA di daerah saya, sering sekali ketika sudah habis waktu dalam mata pelajaran tersebut, tetapi Ia masih tetap melanjutkan tanpa peduli dengan guru yang akan mengajar mata pelajaran lain selanjutnya.
Selain itu ada juga guru yang seharusnya mengajar dengan penuh selama mata pelajaran yang Ia ajarkan, tetapi Ia menyudahi pembelajaran tersebut dengan alasan yang mungkin sepele. Sehingga akhirnya membuat kelas menjadi kosong tanpa ada kegiatan belajar mengajar sembari menunggu mata pelajaran selanjutnya.
Hal-hal sepele tersebut jika dibiarkan terus menerus tentunya dapat menyebabkan dampak yang luar biasa bagi pelajar atau siswa. Dan permasalahan tersebut merupakan salah satu bagian kecil dari korupsi, yaitu korupsi waktu.
Berlebihan mengambil jam
Ada saat dimana seorang guru terkadang terlalu asyik dengan materi yang Ia sampaikan. Mungkin Ia menganggap bahwa siswa akan terus-menerus mampu mendapatkan dan butuh dengan informasi darinya. Sehingga Ia terlena sehingga melupakan waktu yang sudah habis di mata pelajaran tersebut dan mengambil jam pelajaran guru lain yang akan mengajar selanjutnya.
Hal ini dapat menyebabkan hilangnya kesempatan guru lain yang hendak mengajar selanjutnya di kelas tersebut. Sehingga materi atau mata pelajaran selanjutnya yang diambil jamnya oleh guru tadi menjadi tidak selesai dan terbengkalai. Guru lain pun ikut menjadi terlambat dalam meyampaikan materi. Dan akan menjadi siklus berputar antara guru yang satu dengan yang lainnya, yaitu mengambil jam pembelajaran guru lain untuk menyelesaikan materi yang belum selesai.
Penyebab lain adalah karena materi yang terlalu banyak. Ketika menjelang Ujian Tengah Semester ataupun ujian lainnya, pembelajaran yang masih banyak yang belum selesai terpaksa harus diselesaikan dengan waktu yang mepet. Sehingga guru memaksakan siswanya untuk terus belajar dan Ia memberikan semua materi dalam waktu yang singkat.
Dengan adanya pertambahan waktu yang tidak seharusnya di jam pelajaran tersebut, siswa akan merasakan kejenuhan. Terlalu lamanya durasi pembelajaran, apalagi kalau gurunya menjelaskan secara monoton, siswa akan mudah bosan dan akhirnya memilih untuk mengobrol dengan teman sebangku ataupun memilih keluar untuk mencari udara segar.
Mengurangi jam pelajaran
Banyak hal juga yang biasa dilakukan oleh guru yang membuat mereka mengurangi jam pelajaran. Misalnya ketika waktu seharusnya di jadwal pelajaran 2 jam pelajaran, guru mengurangi waktu belajar mengajar menjadi hanya satu jam saja. Tidak sedikit yang menambahkan alasan-alasan yang sepele dalam waktu yang dipersingkat tersebut.
Kesibukan pribadi
Kesibukan pribadi banyak sekali dijadikan alasan untuk mengurangi waktu pembelajaran. Guru biasanya beralasan ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggal. Padahal sebenarnya Ia hanya bolos untuk menghindari pelajaran yang Ia tidak mengerti atau belum Ia siapkan.
Kegiatan sekolah
Tidak sedikit juga guru yang super sibuk dan hampir tidak lagi mempedulikan keadaan siswanya di dalam kelas. Dengan beralasan kegiatan urgent sekolah (adanya acara sekolah), sehingga Ia hanya masuk sebentar dengan memberikan tugas kepada siswa. Masih syukur apabila tugas yang diberikan akan dibahas di lain waktu. Biasanya guru mengabaikannya dan tugas yang dikerjakan oleh siswa hanya percuma jika tidak ada tindak lanjut dari seorang guru. Percuma jika hanya sekedar mengisi kekosongan karena Ia sibuk dengan kegiatan sekolah.
Malas mengajar
Fenomena lain yang saya sempat rasakan adalah banyak guru yang menunda memberikan pembelajaran dengan banyak memberikan nasihat ataupun memarahi siswanya. Karena belum siapnya materi pembelajaran ataupun malasnya mengajar, guru akan mencari alasan dengan memarahi kesalahan sepele siswa dan menceramahinya mulai dari awal pelajaran hingga lonceng tanda habis jam pelajaran.
Apakah ada yang mengalami hal ini?
Jam pelajaran yang dikurangi oleh guru karena alasan-alasan tersebut dapat berdampak cukup serius untuk siswanya. Terutama dalam hal kondisi didalam kelas yang di tinggalkan oleh  guru yang mengajar. Membiarkan kelas kosong tanpa guru membuat siswa menjadi tak bisa di handle dengan baik.
Banyak siswa hanya akan bermain-main saja dan menghiraukan tugas yang diberikan oleh guru tersebut. Akhirnya kondisi kelas akan menjadi ribut, banyak yang keluar masuk, atau bahkan akan melarikan diri ke kantin dan bolos sekolah.
Membiarkan siswa dalam kondisi yang seperti ini, siswa tidak akan mendapatkan materi yang seharusnya ia dapatkan. Sehingga pembelajaran menjadi tertunda dan akhirnya kembali lagi ke permasalahan diatas, saat menjelang ujian, guru akan memberikan materi ngebut dan banyak untuk siswanya.
Hilangnya kewibawaan
Meskipun sepele, korupsi waktu merupakan hal yang cukup serius dalam menurunnya totalitas seorang guru. Seringnya mengabaikan dan tidak peduli dengan siswa didalam kelas, membuat guru mau tidak mau akan kehilangan kewibawaan sebagai seorang guru yang profesional di mata siswa.
Kewibawaan yang memudar juga menyebabkan profesionalitas yang patut dipertanyakan oleh seorang guru. Guru yang seharusnya profesional dalam mengajar dan kedisiplinan dalam mendidik moral siswa akan menjadi pertanyaan.
Seorang guru yang tidak peduli, tidak akan disegani dan di hormati oleh siswanya. Karena gurunya saja menganggap sepele siswa, bagaimana dengan siswanya?
Introspeksi diri
Solusi permasalahan kurangnya profesionalitas guru yaitu dengan sadar dengan diri sendiri. Saya sebagai seorang calon guru dan guru yang ada di Indonesia tentunya harus meningkatkan totalitas dan kualitas kita sebagai seorang pengajar.
Dengan mendisiplinkan diri dan peduli tidak hanya kemampuan akademik siswa atau pelajar, tetapi juga kemampuan non akademik dan sopan santun/ kelakuan siswa. Peningkatan kedisiplinan ini adalah untuk mewujudkan profesionalitas seorang guru.
Kritik siswa
Untuk peningkatan kedisiplinan, siswa juga bisa ikut andil dalam menumbuhkan kesadaran seorang guru. Salah satunya dengan cara memberikan kritik kepada seorang guru melalui Kepala Sekolah. Sehingga Kepala Sekolah juga ikut mengetahui progress dari guru-guru yang ada di sekolah tersebut.
Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang dilansir dalam Detik News hari Rabu, 5 November 2014, mengatakan bahwa Guru tidak boleh bersikap superior, guru juga harus mau menerima kritik dari para murid didiknya agar tercipta sekolah yang ramah anak.
Jadi sebagai seorang siswa tidak perlu takut karena terancam nilai kecil dari guru yang mengajar, karena melaporkan masalah korupsi waktu yang dilakukan oleh guru di sekolah mereka.
Dengan begitu siswa juga dapat membantu meningkatkan kedisiplinan bagi seorang guru. Selain itu kritik siswa dapat menegur guru agar bisa sedikit sadar akan pentingnya menjunjung tinggi totalitas sebagai seorang guru yang profesional.

"Seorang guru yang baik adalah yang mampu membentuk karakter siswa dengan pendidikan yang dapat membuat siswa disiplin, peduli sesama, dan peka terhadap lingkungan sekitar".


Bandung, 8 Desember 2017. 6:47 pm


0 komentar:

Posting Komentar